Sikap Menunda Pekerjaan





Shutterstock.com























Menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk saya. Terutama waktu kuliah. Hampir sebagian besar tugas kuliah saya tunda. Dikerjakan di detik-detik terakhir. Tidak tahu kenapa rasanya malas banget. Selain itu saya sering kali teledor. Tidak mencatat jadwal ujian dengan baik. Saya pernah lupa kalau ada UAS. Untungnya masih bisa lulus mata kuliah tersebut.

Diantara teman satu angkatan, saya yang paling terakhir lulus. IPK paling jelek. Terjun bebas. Tidak ada harapan diterima kerja di tempat yang layak.Menunda pekerjaan atau tugas adalah sikap buruk yang membuat saya tidak sukses sebagai mahasiswa. Saya dicap sebagai "tukang cari masalah " oleh dosen. Hampir semua dosen mencap jelek.

Kuliah molor sampai semester terakhir. Pilihannya hanya di DO atau lulus. Dengan setengah hati, sisa-sisa energi dan support dari sahabat, akhirnya saya lulus.

Mencari kerja ? Hampir tidak pakai ijasah. Saya menggantikan adiknya Uci. Awalnya saya menolak. Tapi karena didesak akhirnya saya terima juga. Mei 2011 akhirnya saya menggantikan posisi adiknya Uci. Langsung kerja. Tidak pakai training. Learning by doing. Setelah ambil gaji pertama. Saya baru memasukkan lamaran kerja.

Bulan pertama, saya menerima  banyak komplain. Caci maki. Dimarahin ga jelas. Maklum , kantor ini aneh. Tidak ada training dan penjelasan detail bagaimana harus mengerjakan ini dan itu. Saya bekerja di bagian administrasi sekaligus customer service. Alhamdulillah dalam 3 bulan. Saya paham bagaimana membuat arsip yang baik. Dimana alur berkas. Dan siapa yang harus saya kontak di kantor pusat.

Kebiasaan buruk Menunda pekerjaan ? Tidak terjadi dalam bekerja. Malah saya menunjukkan performa kerja yang baik. Saya memang dendam bagian administrasi kampus ITS saat itu. Ada seorang staff yang seenaknya sendiri. Bekerja lambat. Tidak melayani dengan baik. Tidak ramah. Dan tidak memberikan solusi.

Jadilah saya bertekad menjadi admin yang cekatan. Alhamdulillah terkabul dan diakui oleh klien.  Pekerjaan cepat selesai. Memberi banyak kemudahan dan banyak yang akhirnya jadi teman.

Sikap menunda memang tidak baik. Secepat mungkin tugas diselesaikan. Akan semakin baik. Dengan begitu kita punya track record yang cool.  Membangun nama baik tidak mudah. Tapi Insha Allah bisa.

Ternyata merubah kebiasaan buruk bisa ya. Semuanya karena motivasi dalam diri. Kalau kamu punya kebiasaan buruk. Coba deh mulai ubah. Semuanya bisa kalau mau. Keinginan yang kuat akan memberikan energi luar biasa untuk berubah. Saya saja bisa. Dari seseorang  yang dibenci sampai akhirnya sekarang banyak yang memuji. Dalam konteks hasil kerja ya. Semua karena tekad yang kuat! Kamu pasti bisa.

Saya


"Kalau dia masih Mengejar bagaimana mba ?"
Saya bukan Tuhan. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Bagi saya semuanya jelas. Dia telah menikah. Tinggal terpisah. Beda kota. LDR. Itu pilihan. Dan keputusan mereka.

Saya juga tidak berpikir dia akan mengejar. Untuk apa? Dia telah punya kehidupan sendiri begitu juga dengan saya. Sekeras apapun dia menarik perhatian saya, hal itu akan sia-sia.

Keyakinan kami berbeda. Saya menghargai dia sebagai seorang Hindu yang taat. Dan tidak sedikitpun saya berusaha untuk menariknya masuk menjadi seorang muslim. Saya dan apa yang saya lakukan adalah bagian dari syiar islam itu sendiri.

Saya menghargai buku Hindu yang telah dihadiahkan. Isinya sangat bagus. Sungguh kagum dengan keindahan agama Hindu. Tapi tentu hal itu tidak akan membuat saya masuk ke dalamnya.

Saya tahu, dia sangat kecewa. Sama seperti saya yang kecewa dengan apa yang dia lakukan.
Tapi apa yang harus disesali jika semua bagian dari Takdir hidup.

Saya hanya menjalani hari demi hari. Mengenapkan takdir. Percaya bahwa setiap yang terjadi adalah skenario Allah. Sebuah jalan yang akan membawa saya ke takdir berikutnya.

Tidak ada waktu untuk berpikir "bagaimana kalau dia mengejar saya ?"
Sungguh saya ingin meninggal dalam keadaan beriman sebagai seorang muslim.

Workshop Menulis




Step By Step
Seminggu yang lalu saya menerima email. Sangat telat rasanya membalasnya. Tapi saya balas daripada tidak sama sekali. Seorang perempuan berkenalan dengan laki-laki yang ditemui di single muslim. Karena perempuan itu, saya jadi buka blog ini kembali. Kangen banget menulis. Menulis apa saja. Random juga gak apa-apa❤. 

Apakah saya berhenti menulis? Tidak. Tahun ini saya sudah dua kali ikut workshop menulis. Februari 2017 saya ikutan kelasnya Tempo Institute di Jakarta. Selama empat hari belajar menulis feature. Fresh rasanya tapi kurang dapet feelnya.

Di bulan April-Mei 2017 saya gabung kelasnya Salman Aristo belajar nulis skenario film. Delapan kali pertemuan dalam dua bulan. Setiap hari Jum'at saya terbang ke Jakarta. Kelasnya tiap hari Sabtu. Minggu sore saya kembali ke Surabaya. Sangat melelahkan. Tapi seru.

Tiga hari setelah pertemuan terakhir, manager workshop menghubungi saya. Rasanya ga percaya, deg-deg an. Tapi mungkin saya terlalu GR kali ya. Tapi daripada minder. Saya minta waktu selama satu minggu untuk membuat contoh tulisan.

Selesai sampai disitu? Engga! Karena ternyata buat dapat sertifikat workshop, peserta wajib menyelesaikan naskah. Kita dikasih waktu 2-3 minggu. Alhamdulilah kemarin sudah saya kirim. Akhirnya kelar juga. 

Sampai hari ini saya masih menunggu kabar. Semoga saya diberi kesempatan untuk jadi penulis skenario. Minta doanya semua ya :) 





Travel



Koin Euro pertama saya. Hanya satu-satunya. Tersimpan dengan rapih. Menjadi doa untuk datang ke Eropa suatu hari nanti. Insha Allah. Astra, wanita asal Lithuania yang memberikan. Suatu pagi dia bersiap jogging. Dia butuh koin bath. Lalu dia menukarkan koin Euro dengan koin bath yang saya punya. Memori yang tertancap jelas ketika backpacking di Bangkok 2014.

Ada rasa rindu untuk menjelajah lagi. Namun saya harus menahan diri untuk sementara waktu. Tabungan yang ada, saya siapkan untuk mendirikan rumah baca.

Namun ketika melihat koin Euro itu, rasa rindu begitu mendera. Bismillah, ketika ada rejeki lebih saya akan kembali backpacking ke luar negeri. Untuk sementara, cukuplah saya backpacking di dalam negeri dulu.

Eropa sudah lama menjadi impian saya. Sejak SMA, ketika membaca majalah di perpustakaan sekolah. Terutama Jerman. Saya benar-benar jatuh hati dengan negara tersebut. Teknologi dan science yang dimiliki begitu membius saya. Setiap kali backpacking bertemu dengan orang Jerman, saya merasa sangat senang. Saya katakan betapa kagum dengan negaranya.

Keinginan untuk melanjutkan studi master masih saya simpan sampai hari ini. Entah kapan akan terwujud. Tapi Insha Allah, cepat atau lambat akan terwujud. Seperti ketika membuat paspor 2012. Tidak tahu kapan akan berangkat. Yang penting punya dulu. Hingga dua tahun berikutnya bisa backpacking.

Dulu saat masih kuliah dan tidak punya uang sama sekali. Saya menulis daftar negara yang ingin saya datangi. Di selembar kertas. Alhamdulillah negara yang saya tulis jadi kenyataan. Akhirnya kesampaian juga. Kata-kata adalah kekuatan. Kata-kata adalah doa.

Entah kapan akan berangkat ke Jerman, saya simpan dulu. Setidaknya koin Euro pertama saya menjadi semangat untuk pergi ke sana. Bismillah